GANGGUAN PSIKOLOGI BERKAITAN DENGAN MASA NIFAS
Makalah
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi
Dosen
Pengampu: Setyo Mahanani Nugroho,SST.,M.Kes

Oleh:
Nama Nim
Martinah 14140122
Elvi Namirah 14140127
Lidiana Novianti 14140129
Maria Tersiana 14140251
Lilis Nurhayati 14140
Program
Studi D4 Bidan Pendidik
Fakultas
Ilmu Kesehatan
Universitas
Respati Yogyakarta
2014-2015
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat
Tuhan Yang maha Esa, atas berkat dan rahmatNya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah tentang gangguan psikologi berkaitan dengan masa nifas
Dalam kesempatan ini penulis juga ingin
menyampaikan terima kasih kepada ibu Setyo Mahanani
Nugroho,SST.,M.Kes karena telah member tugas kepada kami.
Kami menyadari sepenuhnya,
bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata semoga makalah
tentang gangguan psikologi berkaitan dengan masa nifas
ini dapat bermanfaat bagi
penulis dan bagi semua pihak yang membaca laporan ini.
Yogyakarta,
08 Juni 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
Keterangan Halaman
KATA
PENGANTAR…………………………………………………………………
DAFTAR ISI……………..……………………………………………………………
BAB
I…………………………………………………………………………………..
Pendahuluan…………………………………………………….………………
Latar Belakang…………………………………………………………………..
Rumusan Masalah…………………………………………………………………..……………..
Tujuan…………………………………………………..……………………….
BAB
II………………………………………………..……………………………….…
Isi dan Pembahasan……………………………………………..………………..
BAB
III………………………………………………………………………..………....
Penutup ………………………………………………………………………..…………………..
DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Masa nifas akan menyebabkan terjadinya perubahan - perubahan pada organ
reproduksi. Begitupun halnya dengan kondisi kejiwaan ( psikologis ibu, juga
mengalami perubahan. Dari yang semula belum memiliki anak, kemudian lahirlah
seorang bayi mungil nan lucu yang kini mendampingi ibu. Menjadi orang tua
merupakan suatu krisis tersendiri dan ibu harus mampu melewati masa transisi.
Secara psikologi, seorang ibu akan mengalami akan mengalami gejala - gejala
psikiatrik setelah melahirkan. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh oleh
seorang wanita dalam dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu
pada beberapa minggu atau bulan pertama setelah melahirkan baik dari segi fisik
maupun fisik. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik,
tetapi ada sebagian lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami
gangguan – gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh
yang oleh para peneliti dan klinisi disebut Depresi Post
Partum.
B.
Rumusan Masalah
Gangguan
psikologi apa saja yang terjadi pada masa nifas dan bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas? Memberi contoh
kasus!
C.
Tujuan
Untuk
mengetahui apa saja gangguan psikologi yang terjadi saat nifas dan mengetahui cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas dan
disertai dengan contoh kasus dan penyelesaiannyaa.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sejak
selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan
serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu.
Dalam menjalani adaptasi setelah
melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
1.
Fase taking in
Merupakan periode ketergantungan
yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada
saat itu focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama
proses persalinan sering berulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung inu
menjadi pasif terhadap lingkungannya.
2.
Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10
hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini
ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk
menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul
percaya diri.
3.
Fase letting go
fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang verlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat
menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat. Ada kalanya, ibu
mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya keadaan ini disebut baby
blues.
B.
Gangguan
Psikologis pada Masa Nifas
1.
Baby blues
a.
Pengertian
Gangguan efek ringan ( gelisah,
cemas, lelah ) yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.
b.
Faktyor Penyebab
1)
Faktor Hormonal
Berupa perubahan kadar estrogen,
progesteron, prolaktin,dan estriol yang yang terlalu rendah.
2)
Faktor Usia.
3)
Pengalam dalam pross kehamilan dan persalinan.
4)
Adanya perasaan belum siap
menghadapi lahirnya bayi.
5)
Latar belakang psikososial wanita
yang bersangkutan, seperti tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan
yang tidak diinginkakan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi,
serta keadekuatan dukungan sosial lingkungannya.
c.
Gejala
Reaksi depresi/sedih, menagis, mudah
tersinggun atau iritabilitas, cemas, labil perasaan, cendrung menyalahkan diri
sendiri,gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
d.
Pencegahan
1) beristirahat ketika bayi tidur
2) Berolah raga ringan, ikhlas dan
tulus dengan peran baru sebagai ibu
3) Tidak perfeksionis dalam hal
mengurusi bayi.
4) Bicarakan rasa cemas dan
komunikasikan
5) Bersikap fleksibel dan bergabung
dengan kelompok ibu-ibu baru.
2.
Depresi
Post partum
a.
Pengertian
Depresi
berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari.
b.
Faktor Penyebab
1) factor konstitusional
Gangguan
post partum berkaitan dengan riwayat obstetri yang meliputi riwayat hamil
sampai bersalin, serta adanya komplikasi atau tidak dari kehamilan dan
persalinan sebelumnya.
2) factor fisik
Terjadi
karena ketidakseimbangan hormonal, Hormon yang terkait dengan terjadinya
depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone.
3) factor psikologi
Paraliahan
yang cepat dari keadaan “ 2 dalam 1 “, pada akhir kehamilan menjadi dua
individu. Yaitu ibu dan anak yang bergantung pada penyesuaian psikologis
individu.
c.
Gejala
1) Kelelahan
dan perubahan mood
2) Gangguan
nafsu makan dan gangguan tidur
3) Tidak mau berhubungan dengan orang lain
4)
Tidak mencintai
bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.
d.
Pencegahan
Untuk
mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus
memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila
terlihat sedang sedih, dan sarankan pada
ibu untuk:
1) beristirahat dengan baik
2) berolahraga yang ringan
3) berbagi cerita dengan orang lain
4) bersikap fleksible
5) bergabung dengan orang-oarang baru
6) sarankan untuk berkonsultasi dengan
tenaga medis.
3.
Post Partum Psikosa
a. Pengertian
Depresi yang paling berat, terjadi pada minggu pertama dalam
6 minggu setelah melahirkan.
b. Faktor Penyebab
1) Faktor sosial kultural (dukungan
suami dan keluarga, kepercayaan atau etnik ).
2) Faktor obstetrik dan ginekologik (
kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi )
3) Karakter personal seperti harga diri
yang rendah.
4) Perubahan hormonal yang cepat.
5) Marital disfungsion atau ketidak
mampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya
dukungan.
6) Unwanted pregnancy atau kehamilan
tidak di inginkan
7) Merasa terisolasi.
c. Gejala
1) Curiga berlebihan
2) Kebingungan
3) Sulit konsentrasi
4) Bicara meracau atau inkoheren
5) Pikiran obsesif ( pkiran yang
menyimpang dan berulang-ulang )
6) Impulsif ( bertindak diluar
kesadaran )
d. Pencegahan
1) Pelajari diri sendiri
Pelajari
dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa pospartum, sehingga ibu dan
keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera
mendapatkan penanganan yang tepat.
2) Tidur dan makan yang cukup
Diet
nutrisi penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan
tidur yang cukup. Keduanya penting dalam periode pospartum.
3) Olahraga
Merupakan kunci untuk mengurangi depresi postpartum, lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan kaki setiap hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileks dan lebih menguasai emosional yang berlebihan.
Merupakan kunci untuk mengurangi depresi postpartum, lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan kaki setiap hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileks dan lebih menguasai emosional yang berlebihan.
4) Beritahukan perasaan ibu
Jangan
takut untuk mengutarakan perasaan ibu dan mengekspresikan yang ibu inginkan dan
butuhkan demi kenyamanan ibu. Jika mempunyai masalah, segera beritahukan kepada
orang yang dipercaya ataupun orang yang terdekat.
5) Dukungan dari keluarga dan
orang-orang terdekat
Dukungan
dari orang terdekat dari mulai kehamilan, persalinan dan pospartum sangat
penting, yakinkan diri ibu bahwa keluarga selalu berada disamping ibu setiap
ada kesulitan.
6) Persiapan diri dengan baik
Persiapan
sebelum persalinan sangat diperlukan, ikutlah kelas hamil, baca buku-buku yang
dibutuhkan.
7) Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan
rumah tangga sedikit banyak dapat membantu ibu melupakan golakan perasaan yang
terjadi selama periode pospartum. Kondisi anda yang belum stabil, bisa ibu
curahka dengan memasak atau membersihkan rumah.
8) Dukungan emosional
Minta
dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi
rasa frustasi atau stress. Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu
rasakan, sehingga ibu merasa lebih baik dari setelahnya.
CONTOH KASUS
Ketika Melanie Stove menjadi hamil, dia memiliki segalanya.
Dia adalah seorang dokter sukses bahagia menikah dengan manajer penjualan farmasi.
Dia memiliki keluarga yang mendukung. Dia adalah seorang wanita hamil
berseri-seri, ingin memiliki anak dan memulai kehidupan barunya sebagai seorang
ibu. Pada tanggal 23 Februari 2001, Summer Moose lahir dengan keadaan tidak
normal, yaitu cacat Down Syndrom yang baru diketahui setelah melahirkan. Tapi
ibu Melanie, Carol, menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya.
Melanie, seperti tidak mau menerima keberadaan bayinya. Melani meyakinkan
dirinya bahwa bayinya seharusnya lahir dengan keadaan atau kondisi yang normal
karena dia adalah seorang tenaga kesehatan yang seharusnya tahu bagaimana cara
merawat kehamilannya.
Melani mengalami masalah psikis atau mental yaitu tekanan
yang mendalam pada kenyataannya bahwa dia adalah seorang dokter yang lalai
menerapkan ilmu kesehatan. Melani sangat depresi, malu, dan tidak percaya diri
lagi karena pernyataan orang-orang disekitarnya yang menganggap dia adalah
seorang dokter yang tidak professional. Melani masih tidak dapat menerima
kondisi anaknya. Ketika Summer berumur satu bulan, depresi Melanie menjadi
begitu parah sehingga ia berhenti makan dan minum dan tidak bisa lagi menelan.
Dia mulai memiliki pikiran paranoid tentang orang lain - dia
berpikir bahwa tetangganya di seberang jalan semua membicarakannya karena
mereka pikir dia adalah ibu yang buruk. Dia menjadi kurus dan merasa ingin
berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang dokter. Lalu, ia mulai mencari cara
untuk mengakhiri hidupnya. Melanie dirawat di rumah sakit tiga kali dalam tujuh
minggu. Dia diberi empat kombinasi anti-psikotik, anti-kecemasan, dan obat
anti-depresan. Namun keluarganya sudah dapat menerima kondisi anak Melani,
walaupun Melani sebagai ibunya sendiri belum dapat menerima kondisi anaknya.
Pemecahanmasalahnya:
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Anak yang mengalam sindrom down umumnya mengalami kelemahan otot, mulut yang terbuka, lidah yang terjulur, ukuran telinga yang abnormal, gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, dan sebagainya. Intervensi dini yang kita lakukan adalah jika anak tersebut misalnya: mengalami gangguan pendengaran, dapat melakukan pemeriksaan telinga sejak awal kehidupan dilakukan test pendengaran secara berkala, atau jika anak mengalami kelainan mata dapat dilakukan pemeriksaan yang rutin ke dokter mata. Memberikan lingkungan yang baik bagi anak, memberikan aktivitas motorik kasar dan halus dengan bermain dengan teman sebayanya, dan peran orang tua sangat dibutuhkan.
Pemecahanmasalahnya:
Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Anak yang mengalam sindrom down umumnya mengalami kelemahan otot, mulut yang terbuka, lidah yang terjulur, ukuran telinga yang abnormal, gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, dan sebagainya. Intervensi dini yang kita lakukan adalah jika anak tersebut misalnya: mengalami gangguan pendengaran, dapat melakukan pemeriksaan telinga sejak awal kehidupan dilakukan test pendengaran secara berkala, atau jika anak mengalami kelainan mata dapat dilakukan pemeriksaan yang rutin ke dokter mata. Memberikan lingkungan yang baik bagi anak, memberikan aktivitas motorik kasar dan halus dengan bermain dengan teman sebayanya, dan peran orang tua sangat dibutuhkan.
Dari kasus ini, ibu Melani harus diberi banyak dukungan dan
pengertian dari orang-orang terdekatnya seperti suami, keluarga, maupun
orang-orang disekitarnya, bahwa kelalaian adalah manusiawi. Sebagai sesama
tenaga kesehatan kita sebagai bidan harus saling menguatkan dengan memberi
penyuluhan tentang penyakit-penyakit yang dapat terjadi di saat masa kehamilan
sampai masa nifas, memberi tahu disekitar lingkungan masyarakat ibu Melani
tentang sebenarnya down sindrom itu sendiri tidak diketahui selama kehamilan,
maka sepenuhnya hal ini tidak harus menjadi beban psikis bagi ibu, karena
memang bukan kesalahannya.. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dokter Melani,
kita bisa membantu dia dengan memberikan konseling dan membantu memantau
perkembangan anaknya dan tentunya memberi semangat pada dokter Melani untuk
melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter tanpa terus-terusan menyalahkan diri
sendiri.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
A.
Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sejak
selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan
serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu.
fase-fase adaptasi setelah
melahirkant :
1.
Fase taking in
Merupakan periode ketergantungan
yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.
2.
Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10
hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
3.
Fase letting go
fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang
verlangsung sepuluh hari setelah melahirkan.
B.
Gangguan
Psikologis pada Masa Nifas
1.
Baby
blues adalah gangguan efek ringan ( gelisah, cemas, lelah ) yang sering tampak
dalam minggu pertama setelahh persalinan. Pencegahan beristirahat ketika bayi
tidur,Berolah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu,
2.
Depresi Post partum adalah Depresi berat yang terjadi 7 hari
setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya depresi
post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada
ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat
sedang sedih
3.
Post
Partum Psikosa adalah Depresi yang paling berat, terjadi pada minggu pertama
dalam 6 minggu setelah melahirkan. Pencegahan: Pelajari diri sendiri,Pelajari
dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa postpartum,sehingga ibu dan
keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera
mendapatkan penanganan yang tepat,Dukungan emosional,Minta dukungan emosional
dari keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau
stress. Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu
merasa lebih baik dari setelahnya.
Contoh kasus
Contoh kasus diatas diambil dari seorang ibu yang berfrofesi
sebagai tenaga kesehatan yakni seorang dokter dimana setelah melahirkan si ibu
tidak menerima bayi yang telah dia lahirkan, disini anaknya ada kekurangan, si
ibu tidak menerima keadan seperti ini karena dia selalu beranggapan bahwa
tetangganya selalu membicrakannya. Padahal selama kehamilan si ibu merasa
baik-baik saja kandungannya, tapi ternyata tidak seperti yang diharapkan. Dia
merasa bahwa dia bukanlah bidan yang professional, dia beranggapan bahwa dia
sendiri tidak bisa menjaga janinya selama kehamilan.
Disini ibu berusaha bunuh diri, dan dia tidak nafsu makan,
badannya kurus dan tidak terurus, selama seminggu dia selalu sakit sampai 3x.
dan akhirnya dia mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 12 ke
lantai dasar.
Tanggapan
Dari contoh kasus seperti itu, ibu sangat-sangat depresi,
walaupun sudah di bawa ke psikiater dan diberi obat penenang, tapi tetap saja
beliau kacau, dan masih merasa bersalah yang berlebihan. Seharusnya ibu ini
mendapatkan perhatian, dukungan yang lebih dari suami, dan ibu mertua, kandung
dan sanak keluarga yang lainnya. Tapi apa daya jika dia sudah meninggal seperti
sekarang.
Untuk kita harus lebih mengerti tentang psikologi ibu yang
baru saja melahirkan, bantu mereaka, dan beri informasi yang lebih kepada
mereka.
Daftar Pustaka
Ambarawati, Eny Ratna dan Wulandari, Diah. 2010. Asuhan
Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika.
Suherni et al. 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarata: Fitramala.
http://susanthy123.blogspot.com/p/makalah-masalah-masalah-dalam-masa.html
Vivian Nanny Lia Dewi, Tri Sunarsih.2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar