Selasa, 09 Juni 2015

gangguan psikologi dengan masa nifas




GANGGUAN PSIKOLOGI BERKAITAN DENGAN MASA NIFAS
Makalah Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi
Dosen Pengampu: Setyo Mahanani Nugroho,SST.,M.Kes
Description: C:\Users\user\Documents\pictures\logo-unriyo-warna.jpg
Oleh:
Nama                                       Nim
Martinah                                  14140122
Elvi Namirah                           14140127
Lidiana Novianti                     14140129
Maria Tersiana             14140251
Lilis Nurhayati                        14140

Program Studi D4 Bidan Pendidik
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Respati Yogyakarta
2014-2015




KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang maha Esa, atas berkat dan rahmatNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah tentang gangguan psikologi berkaitan dengan masa nifas
Dalam kesempatan ini penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada ibu Setyo Mahanani Nugroho,SST.,M.Kes karena telah member tugas kepada kami.
Kami menyadari sepenuhnya, bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca sangat penulis harapkan demi kesempurnaan laporan ini.
Akhir kata semoga makalah tentang gangguan psikologi berkaitan dengan masa nifas
ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi semua pihak yang membaca laporan ini.






                                                                                     Yogyakarta,    08 Juni 2015


                                                                                                  Penyusun




DAFTAR ISI

Keterangan                                                                                                                  Halaman
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………
DAFTAR ISI……………..……………………………………………………………
BAB I…………………………………………………………………………………..
            Pendahuluan…………………………………………………….………………
            Latar Belakang…………………………………………………………………..
            Rumusan Masalah…………………………………………………………………..……………..
            Tujuan…………………………………………………..……………………….
BAB II………………………………………………..……………………………….…
            Isi dan Pembahasan……………………………………………..………………..
BAB III………………………………………………………………………..………....
            Penutup ………………………………………………………………………..…………………..
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………




BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Masa nifas akan menyebabkan terjadinya perubahan - perubahan pada organ reproduksi. Begitupun halnya dengan kondisi kejiwaan ( psikologis ibu, juga mengalami perubahan. Dari yang semula belum memiliki anak, kemudian lahirlah seorang bayi mungil nan lucu yang kini mendampingi ibu. Menjadi orang tua merupakan suatu krisis tersendiri dan ibu harus mampu melewati masa transisi. Secara psikologi, seorang ibu akan mengalami akan mengalami gejala - gejala psikiatrik setelah melahirkan. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh oleh seorang wanita dalam dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada beberapa minggu atau bulan pertama setelah melahirkan baik dari segi fisik maupun fisik.  Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi ada sebagian lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan – gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh yang oleh para peneliti dan klinisi disebut Depresi Post Partum.
B.   Rumusan Masalah
Gangguan psikologi apa saja yang terjadi pada masa nifas dan bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas? Memberi contoh kasus!
C.   Tujuan
Untuk mengetahui apa saja gangguan psikologi yang terjadi saat nifas dan mengetahui cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas dan disertai dengan contoh kasus dan penyelesaiannyaa.



BAB II
PEMBAHASAN



A.    Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu.
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
1.      Fase taking in
Merupakan periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung inu menjadi pasif terhadap lingkungannya.
2.      Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
3.       Fase letting go
fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang verlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat. Ada kalanya, ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya keadaan ini disebut baby blues.

B.     Gangguan Psikologis pada Masa Nifas
1.      Baby blues
a.       Pengertian
Gangguan efek ringan ( gelisah, cemas, lelah ) yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.
b.      Faktyor Penyebab
1)      Faktor Hormonal
Berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin,dan estriol yang yang terlalu rendah.
2)      Faktor Usia.
3)       Pengalam dalam pross kehamilan dan persalinan.
4)      Adanya perasaan belum siap menghadapi lahirnya bayi.
5)      Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkakan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi, serta keadekuatan dukungan sosial lingkungannya.



c.       Gejala
Reaksi depresi/sedih, menagis, mudah tersinggun atau iritabilitas, cemas, labil perasaan, cendrung menyalahkan diri sendiri,gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
d.      Pencegahan
1)      beristirahat ketika bayi tidur
2)      Berolah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
3)      Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi.
4)      Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
5)      Bersikap fleksibel dan bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru.

2.      Depresi Post partum
a.       Pengertian
Depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari.
b.      Faktor Penyebab
1)      factor konstitusional
Gangguan post partum berkaitan dengan riwayat obstetri yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin, serta adanya komplikasi atau tidak dari kehamilan dan persalinan sebelumnya.
2)      factor fisik
Terjadi karena ketidakseimbangan hormonal, Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone.
3)      factor psikologi
Paraliahan yang cepat dari keadaan “ 2 dalam 1 “, pada akhir kehamilan menjadi dua individu. Yaitu ibu dan anak yang bergantung pada penyesuaian psikologis individu.
c.       Gejala
1)      Kelelahan dan perubahan mood
2)      Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur
3)       Tidak mau berhubungan dengan orang lain
4)       Tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.


d.      Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat  sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk:
1)      beristirahat dengan baik
2)      berolahraga yang ringan
3)      berbagi cerita dengan orang lain
4)      bersikap fleksible
5)      bergabung dengan orang-oarang baru
6)      sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

3.      Post Partum Psikosa
a.       Pengertian
Depresi yang paling berat, terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
b.      Faktor Penyebab
1)      Faktor sosial kultural (dukungan suami dan keluarga, kepercayaan atau etnik ).
2)      Faktor obstetrik dan ginekologik ( kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi )
3)      Karakter personal seperti harga diri yang rendah.
4)      Perubahan hormonal yang cepat.
5)      Marital disfungsion atau ketidak mampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya dukungan.
6)      Unwanted pregnancy atau kehamilan tidak di inginkan
7)      Merasa terisolasi.
c.       Gejala
1)      Curiga berlebihan
2)      Kebingungan
3)      Sulit konsentrasi
4)      Bicara meracau atau inkoheren
5)      Pikiran obsesif ( pkiran yang menyimpang dan berulang-ulang )
6)      Impulsif ( bertindak diluar kesadaran )
d.      Pencegahan
1)      Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa pospartum, sehingga ibu dan keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera mendapatkan penanganan yang tepat.
2)      Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting dalam periode pospartum.
3)       Olahraga
Merupakan kunci untuk mengurangi depresi postpartum, lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan kaki setiap hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileks dan lebih menguasai emosional yang berlebihan.
4)      Beritahukan perasaan ibu
Jangan takut untuk mengutarakan perasaan ibu dan mengekspresikan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan ibu. Jika mempunyai masalah, segera beritahukan kepada orang yang dipercaya ataupun orang yang terdekat.
5)      Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat
Dukungan dari orang terdekat dari mulai kehamilan, persalinan dan pospartum sangat penting, yakinkan diri ibu bahwa keluarga selalu berada disamping ibu setiap ada kesulitan.
6)      Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum persalinan sangat diperlukan, ikutlah kelas hamil, baca buku-buku yang dibutuhkan.
7)      Lakukan pekerjaan rumah tangga
Pekerjaan rumah tangga sedikit banyak dapat membantu ibu melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode pospartum. Kondisi anda yang belum stabil, bisa ibu curahka dengan memasak atau membersihkan rumah.
8)      Dukungan emosional
Minta dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau stress. Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu merasa lebih baik dari setelahnya.
CONTOH KASUS
Ketika Melanie Stove menjadi hamil, dia memiliki segalanya. Dia adalah seorang dokter sukses bahagia menikah dengan manajer penjualan farmasi. Dia memiliki keluarga yang mendukung. Dia adalah seorang wanita hamil berseri-seri, ingin memiliki anak dan memulai kehidupan barunya sebagai seorang ibu. Pada tanggal 23 Februari 2001, Summer Moose lahir dengan keadaan tidak normal, yaitu cacat Down Syndrom yang baru diketahui setelah melahirkan. Tapi ibu Melanie, Carol, menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan putrinya. Melanie, seperti tidak mau menerima keberadaan bayinya. Melani meyakinkan dirinya bahwa bayinya seharusnya lahir dengan keadaan atau kondisi yang normal karena dia adalah seorang tenaga kesehatan yang seharusnya tahu bagaimana cara merawat kehamilannya.
Melani mengalami masalah psikis atau mental yaitu tekanan yang mendalam pada kenyataannya bahwa dia adalah seorang dokter yang lalai menerapkan ilmu kesehatan. Melani sangat depresi, malu, dan tidak percaya diri lagi karena pernyataan orang-orang disekitarnya yang menganggap dia adalah seorang dokter yang tidak professional. Melani masih tidak dapat menerima kondisi anaknya. Ketika Summer berumur satu bulan, depresi Melanie menjadi begitu parah sehingga ia berhenti makan dan minum dan tidak bisa lagi menelan.
Dia mulai memiliki pikiran paranoid tentang orang lain - dia berpikir bahwa tetangganya di seberang jalan semua membicarakannya karena mereka pikir dia adalah ibu yang buruk. Dia menjadi kurus dan merasa ingin berhenti dari pekerjaannya sebagai seorang dokter. Lalu, ia mulai mencari cara untuk mengakhiri hidupnya. Melanie dirawat di rumah sakit tiga kali dalam tujuh minggu. Dia diberi empat kombinasi anti-psikotik, anti-kecemasan, dan obat anti-depresan. Namun keluarganya sudah dapat menerima kondisi anak Melani, walaupun Melani sebagai ibunya sendiri belum dapat menerima kondisi anaknya.

Pemecahanmasalahnya:
            Anak dengan Sindrom Down adalah individu yang dapat dikenali dari fenotipnya dan mempunyai kecerdasan terbatas, yang terjadi akibat adanya jumlah kromosom 21 yang berlebih. Anak yang mengalam sindrom down umumnya mengalami kelemahan otot, mulut yang terbuka, lidah yang terjulur, ukuran telinga yang abnormal, gangguan pendengaran, mengalami gangguan penglihatan, dan sebagainya. Intervensi dini yang kita lakukan adalah jika anak tersebut misalnya: mengalami gangguan pendengaran, dapat melakukan pemeriksaan telinga sejak awal kehidupan dilakukan test pendengaran secara berkala, atau jika anak mengalami kelainan mata dapat dilakukan pemeriksaan yang rutin ke dokter mata. Memberikan lingkungan yang baik bagi anak, memberikan aktivitas motorik kasar dan halus dengan bermain dengan teman sebayanya, dan peran orang tua sangat dibutuhkan.
Dari kasus ini, ibu Melani harus diberi banyak dukungan dan pengertian dari orang-orang terdekatnya seperti suami, keluarga, maupun orang-orang disekitarnya, bahwa kelalaian adalah manusiawi. Sebagai sesama tenaga kesehatan kita sebagai bidan harus saling menguatkan dengan memberi penyuluhan tentang penyakit-penyakit yang dapat terjadi di saat masa kehamilan sampai masa nifas, memberi tahu disekitar lingkungan masyarakat ibu Melani tentang sebenarnya down sindrom itu sendiri tidak diketahui selama kehamilan, maka sepenuhnya hal ini tidak harus menjadi beban psikis bagi ibu, karena memang bukan kesalahannya.. Untuk menumbuhkan rasa percaya diri dokter Melani, kita bisa membantu dia dengan memberikan konseling dan membantu memantau perkembangan anaknya dan tentunya memberi semangat pada dokter Melani untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai dokter tanpa terus-terusan menyalahkan diri sendiri.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
A.    Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu.
fase-fase adaptasi setelah melahirkant :
1.      Fase taking in
Merupakan periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan.
2.      Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
3.       Fase letting go
fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang verlangsung sepuluh hari setelah melahirkan.
B.     Gangguan Psikologis pada Masa Nifas
1.      Baby blues adalah gangguan efek ringan ( gelisah, cemas, lelah ) yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan. Pencegahan beristirahat ketika bayi tidur,Berolah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu,
2.      Depresi Post partum adalah Depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari. Pencegahan Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat  sedang sedih
3.      Post Partum Psikosa adalah Depresi yang paling berat, terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan. Pencegahan: Pelajari diri sendiri,Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa postpartum,sehingga ibu dan keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera mendapatkan penanganan yang tepat,Dukungan emosional,Minta dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau stress. Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu merasa lebih baik dari setelahnya.


Contoh kasus
Contoh kasus diatas diambil dari seorang ibu yang berfrofesi sebagai tenaga kesehatan yakni seorang dokter dimana setelah melahirkan si ibu tidak menerima bayi yang telah dia lahirkan, disini anaknya ada kekurangan, si ibu tidak menerima keadan seperti ini karena dia selalu beranggapan bahwa tetangganya selalu membicrakannya. Padahal selama kehamilan si ibu merasa baik-baik saja kandungannya, tapi ternyata tidak seperti yang diharapkan. Dia merasa bahwa dia bukanlah bidan yang professional, dia beranggapan bahwa dia sendiri tidak bisa menjaga janinya selama kehamilan.
Disini ibu berusaha bunuh diri, dan dia tidak nafsu makan, badannya kurus dan tidak terurus, selama seminggu dia selalu sakit sampai 3x. dan akhirnya dia mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 12 ke lantai dasar.
Tanggapan
Dari contoh kasus seperti itu, ibu sangat-sangat depresi, walaupun sudah di bawa ke psikiater dan diberi obat penenang, tapi tetap saja beliau kacau, dan masih merasa bersalah yang berlebihan. Seharusnya ibu ini mendapatkan perhatian, dukungan yang lebih dari suami, dan ibu mertua, kandung dan sanak keluarga yang lainnya. Tapi apa daya jika dia sudah meninggal seperti sekarang.
Untuk kita harus lebih mengerti tentang psikologi ibu yang baru saja melahirkan, bantu mereaka, dan beri informasi yang lebih kepada mereka.




Daftar Pustaka


Ambarawati, Eny Ratna dan Wulandari, Diah. 2010. Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Nuha Medika.

 Suherni et al. 2008. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarata: Fitramala.
http://susanthy123.blogspot.com/p/makalah-masalah-masalah-dalam-masa.html

Vivian Nanny Lia Dewi, Tri Sunarsih.2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Medika.


gangguan psikologi dengan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar